Bara Hati
Di antara rerintik hujan dan gemuruh Guntur
dengarkan sebait puisi tentang galau
hati yang mendesau seperti angin
menderu di pepucuk bambu
butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba
air dan api adakah sama bila bara telah menyala
air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar
habis dan dimusnah
seperti kayu menjadi abu
seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu
24 Februari 2011
Sekapur sirih
Alhamdulilah blog ini dapat kami susun, blog ini merupakan sarana menggali, menyalurkan dan mengembangkan Sastra di Trenggalek di mana di sini di sajikan karya putra-putri Trenggalek, baik berupa Puisi mau pun cerpen, semoga hadirnya blog ini mampu di terima di hati para pembaca kususnya pecinta sastra dan semoga mampu memberikan manfaat karena setidaknya adanya blog Trenggalek Sastra ini merupakan salah satu bukti bahwa Trenggalek Kaya akan Sastrawan dan penulis-penulis baru.
Tampilkan postingan dengan label puisi TOSA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi TOSA. Tampilkan semua postingan
Jumat, 22 Juli 2011
Tanggal
Tanggal
Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan
bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ?
Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan
dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir Desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
Dapatkah menemu isarah pada daun yang tanggal dari dahan
bila cuma memungut lalu memasukkannya di tong sampah kemudian dibakar atau didiamkan
tanggal berapa hari ini ?
Angka angka-Nya masih sama seperti yang kemaren dibaca bulan
dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan berlalu tanpa berbuat sesuatu.
Hingga di akhir Desember tahun ditanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
Minggu, 24 April 2011
harusnya kutulis Opini
Harusnya kutulis Opini
oleh Tosa Poetra pada 15 April 2011 jam 20:15
Pagi tadi di teras SENAYAN
Seorang gadis bertanya pada kekasihnya
"Sayang kapan negri kita berjaya?"
"kelak ketika kita telah menyatu dengan alam dan di rahimmu benih yang kutanam tumbuh menjadi tunas yang kebal pada hama"
Sore ini di halaman istana negara
Seorang anak menanya pada bundanya
"mengapa banyak ulat bulu bermunculan di negara kita bunda ?"
"Agar kau menjadi Penyair anakku,dan kelak ketika ulat bulu itu telah menjelma kupu-kupu menghias langit negeri,ketika itu jadikan negri ini puisi yang tak diduduki ulat bulu "
Malam ini di meja belajar
Seorang mahasiswa berkata pada selembar kertas
"aku menyesal telah mencoretimu dengan puisi"
oleh Tosa Poetra pada 15 April 2011 jam 20:15
Pagi tadi di teras SENAYAN
Seorang gadis bertanya pada kekasihnya
"Sayang kapan negri kita berjaya?"
"kelak ketika kita telah menyatu dengan alam dan di rahimmu benih yang kutanam tumbuh menjadi tunas yang kebal pada hama"
Sore ini di halaman istana negara
Seorang anak menanya pada bundanya
"mengapa banyak ulat bulu bermunculan di negara kita bunda ?"
"Agar kau menjadi Penyair anakku,dan kelak ketika ulat bulu itu telah menjelma kupu-kupu menghias langit negeri,ketika itu jadikan negri ini puisi yang tak diduduki ulat bulu "
Malam ini di meja belajar
Seorang mahasiswa berkata pada selembar kertas
"aku menyesal telah mencoretimu dengan puisi"
Senin, 21 Maret 2011
Lomba puisi (sayembara Tuhan)
Tahun lalu saya bikin puisi,mau saya kirim pada Tuhan
Katanya Tuhan adakan sayembara
jika ada yang dapat bikin puisi melehihi Qur'an,Dia akan pensiun jadi Tuhan.
Saya batalkan kirim puisi,sebab saya takut melebihi Qur'an.
Jika Tuhan pensiun,siapa yang gantikan?
Kamu?
Aku?
Saya tak mau jadi Tuhan,kalau jadi Tuhan semenit saja pasti bosan,Mendengar rintih dan pintamu yang tak karuan
Melihat kau turuti ajakan setan.
Saya tak lagi membikin puisi
(saya tak mau jadi Tuhan)
Katanya Tuhan adakan sayembara
jika ada yang dapat bikin puisi melehihi Qur'an,Dia akan pensiun jadi Tuhan.
Saya batalkan kirim puisi,sebab saya takut melebihi Qur'an.
Jika Tuhan pensiun,siapa yang gantikan?
Kamu?
Aku?
Saya tak mau jadi Tuhan,kalau jadi Tuhan semenit saja pasti bosan,Mendengar rintih dan pintamu yang tak karuan
Melihat kau turuti ajakan setan.
Saya tak lagi membikin puisi
(saya tak mau jadi Tuhan)
Jumat, 18 Maret 2011
beri saja judul apa
Berisaja judul Apa
oleh Tosa Poetra pada 28 Januari 2011 jam 1:04
Mungkin telah lupa aku menulis judul
bahkan isinya entah kutaruh di mana
namun aku yakin ketika kau baca dengan hati yang tak lagi seperti air yang dimasukkan dalam kulkas seharian,kau dapat tau tak cuma judul atau isi,tapi makna dan pesan yang kusampaikan dalam larik kalimat yang kutulis di samping botol votca dan puntung rokok yang saling pandang dan tersenyum melihatku terus menulis meski aku tak tau apa,untuk apa dan hitungan keberapa
sebab aku tak pernah menghitung,sama seperti kau yang tak juga memperhitungkan
tak juga kumencari jawab dari apa
sebab kaupun mengaggap bukan apa apa kecuali sebait puisi yang cukup kau apresiasi tanpa aksi dan realisasi
cukup dengan riuh tepuk tangan yang mengalahkan gejolak hatiku
cobalah sekali kau dengar suara cabe ketika dimasukkan dalam minyak panas di atas tungku menyala
sesungguhnya suara itulah suara hatiku
melihat kau
oleh Tosa Poetra pada 28 Januari 2011 jam 1:04
Mungkin telah lupa aku menulis judul
bahkan isinya entah kutaruh di mana
namun aku yakin ketika kau baca dengan hati yang tak lagi seperti air yang dimasukkan dalam kulkas seharian,kau dapat tau tak cuma judul atau isi,tapi makna dan pesan yang kusampaikan dalam larik kalimat yang kutulis di samping botol votca dan puntung rokok yang saling pandang dan tersenyum melihatku terus menulis meski aku tak tau apa,untuk apa dan hitungan keberapa
sebab aku tak pernah menghitung,sama seperti kau yang tak juga memperhitungkan
tak juga kumencari jawab dari apa
sebab kaupun mengaggap bukan apa apa kecuali sebait puisi yang cukup kau apresiasi tanpa aksi dan realisasi
cukup dengan riuh tepuk tangan yang mengalahkan gejolak hatiku
cobalah sekali kau dengar suara cabe ketika dimasukkan dalam minyak panas di atas tungku menyala
sesungguhnya suara itulah suara hatiku
melihat kau
bukan puisi cuma cindu di hati
Bukan puisi,cuma rindu di hati
oleh Tosa Poetra pada 30 Januari 2011 jam 9:40
Pernahkah kau tanya tentang rindu dan buliran air dari kelopak mataku ketika teringat rengek anakku minta sepatu baru dan dia yang ada di rahimmu?
harapan baruku telah menanti di tongas asri sejak kemaren
sementara rindu telah tiba di lazuardi
setelah sepekan kau tak kucumbui
ini kutulis bukan untuk puisi sebab cuma rindu yang kupahat dalam kalimat ketika rindu harus kuikat untuk cintaku padamu
oleh Tosa Poetra pada 30 Januari 2011 jam 9:40
Pernahkah kau tanya tentang rindu dan buliran air dari kelopak mataku ketika teringat rengek anakku minta sepatu baru dan dia yang ada di rahimmu?
harapan baruku telah menanti di tongas asri sejak kemaren
sementara rindu telah tiba di lazuardi
setelah sepekan kau tak kucumbui
ini kutulis bukan untuk puisi sebab cuma rindu yang kupahat dalam kalimat ketika rindu harus kuikat untuk cintaku padamu
tanya nyata
Tanya Nyata
oleh Tosa Poetra pada 06 Februari 2011 jam 16:24
Ini apa
itu apa
mengapa
bagaimana
boleh aku bertanya
nyatanya kau cuma diam tanpa kata
Jawab PAK
JAWAB .!
Aku cuma mau tanya
ini apa,itu apa,mengapa dan bagaimana
JAWAB
aku cuma mau tanya
mengapa kau tak mau jawab
jawab
ini kah maumu
semau kamu
DIANCUK
Matamu apa Picek
Kupingmu apa Budhek
lihat
dengar
Mereka menangis,menjerit
menahan lapar sebab jatah subsidi kau korupsi
Ini Nyata
bukan rekayasa,seperti kau menyulap anggaran negara
hei . .hei . . .hei
jangan marah PAK
kau tak seharusnya marah sebab kami telah lebih dulu naik darah
hei . .hei .hei . . .
Mengapa kau kemari
mengapa kau bawa patroli
kami cuma membaca puisi,bukan demontrasi
kami ini sastrawan,bukan urakan
kami masih punya kesopanan,tak seperti kau yang berhati hewan .
Kami cuma mau mengungkapkan air mata penderitaan yang tiada berkesudahan
ini nyata
jangan lagi kau tanya
jujur pak,kamipun cuma sastrawan imitasi yang tak mengenal bangku perguruan tinggi
tak tau rima dan diksi
namun yang kami tulis bukan fiksi
tak sepertimu yang cuma obral janji dan ujung ujungnya minta naik gaji
Ini nyata
dan kami selalu bertanya tanya
kau kemanakan uang negara
sudahlah pak
jawab saja,ayamku kemaren bertelur berapa
mengapa yang kami dapat cuma Tainya saja
INI APA
maaf pak
kami berteriak tak mengenakkan hati
maaf
sebab telah lama kami sakit hati
telah lama kami onani tapi kami tak juga ejakulasi
cuma bisa berlama lama di kamar mandi
tak sepertimu yang bisa punya gundik di sana sini,hingga tiap saat kau bisa mengeluarkan mani
tak seperti kami yang cuma bisa berlama lama di kamar mandi
tapi tak bisa mengeluarkan mani
tak bisa mengeluarkan TAI
sebab perut kami tak pernah terisi karena subsidi selalu kau manipulasi dan uang negara kau korupsi
sudahlah pak
percuma kami bertanya
percuma kami bertutur tentang kisah nyata berlama lama sebab tak mungkin di sini kami bisa ejakulasi
kecuali kau masuk jeruji besi
kecuali kau mati
kecuali kau hentikan budaya Korupsi
dan kau perbaiki nalarmu seng kaya TAI.
. . . .Tosa Poetra . . . .
6 feb 2011
oleh Tosa Poetra pada 06 Februari 2011 jam 16:24
Ini apa
itu apa
mengapa
bagaimana
boleh aku bertanya
nyatanya kau cuma diam tanpa kata
Jawab PAK
JAWAB .!
Aku cuma mau tanya
ini apa,itu apa,mengapa dan bagaimana
JAWAB
aku cuma mau tanya
mengapa kau tak mau jawab
jawab
ini kah maumu
semau kamu
DIANCUK
Matamu apa Picek
Kupingmu apa Budhek
lihat
dengar
Mereka menangis,menjerit
menahan lapar sebab jatah subsidi kau korupsi
Ini Nyata
bukan rekayasa,seperti kau menyulap anggaran negara
hei . .hei . . .hei
jangan marah PAK
kau tak seharusnya marah sebab kami telah lebih dulu naik darah
hei . .hei .hei . . .
Mengapa kau kemari
mengapa kau bawa patroli
kami cuma membaca puisi,bukan demontrasi
kami ini sastrawan,bukan urakan
kami masih punya kesopanan,tak seperti kau yang berhati hewan .
Kami cuma mau mengungkapkan air mata penderitaan yang tiada berkesudahan
ini nyata
jangan lagi kau tanya
jujur pak,kamipun cuma sastrawan imitasi yang tak mengenal bangku perguruan tinggi
tak tau rima dan diksi
namun yang kami tulis bukan fiksi
tak sepertimu yang cuma obral janji dan ujung ujungnya minta naik gaji
Ini nyata
dan kami selalu bertanya tanya
kau kemanakan uang negara
sudahlah pak
jawab saja,ayamku kemaren bertelur berapa
mengapa yang kami dapat cuma Tainya saja
INI APA
maaf pak
kami berteriak tak mengenakkan hati
maaf
sebab telah lama kami sakit hati
telah lama kami onani tapi kami tak juga ejakulasi
cuma bisa berlama lama di kamar mandi
tak sepertimu yang bisa punya gundik di sana sini,hingga tiap saat kau bisa mengeluarkan mani
tak seperti kami yang cuma bisa berlama lama di kamar mandi
tapi tak bisa mengeluarkan mani
tak bisa mengeluarkan TAI
sebab perut kami tak pernah terisi karena subsidi selalu kau manipulasi dan uang negara kau korupsi
sudahlah pak
percuma kami bertanya
percuma kami bertutur tentang kisah nyata berlama lama sebab tak mungkin di sini kami bisa ejakulasi
kecuali kau masuk jeruji besi
kecuali kau mati
kecuali kau hentikan budaya Korupsi
dan kau perbaiki nalarmu seng kaya TAI.
. . . .Tosa Poetra . . . .
6 feb 2011
Puisi,kursi,politisi dan demontrasi
Puisi,kursi,politisi dan demontrasi
oleh Tosa Poetra pada 11 Februari 2011 jam 21:44
Kemaren kulihat dua orang berdasi saling tarik menarik dasi kawan mereka sendiri
kulihat pula ratusan mahasiswa demontrasi lalu satu orang berdasi melepas dasi dan masuk sangkar besi
pagi tadi kulihat orang berdasi duduk di kursi sambil minum kopi bersama mahasiswa yang kemaren demontrasi
lalu mereka menulis puisi dan membacakannya dengan nada tinggi di atas podium layaknya Soetardji
lalu aku bertanya jika mereka telah menjadi puisi masih pantaskah aku menulis puisi
oleh Tosa Poetra pada 11 Februari 2011 jam 21:44
Kemaren kulihat dua orang berdasi saling tarik menarik dasi kawan mereka sendiri
kulihat pula ratusan mahasiswa demontrasi lalu satu orang berdasi melepas dasi dan masuk sangkar besi
pagi tadi kulihat orang berdasi duduk di kursi sambil minum kopi bersama mahasiswa yang kemaren demontrasi
lalu mereka menulis puisi dan membacakannya dengan nada tinggi di atas podium layaknya Soetardji
lalu aku bertanya jika mereka telah menjadi puisi masih pantaskah aku menulis puisi
Tanggal
Tanggal
oleh Tosa Poetra pada 16 Februari 2011 jam 9:56
Dapatkah kita menemukan isarat yang terbawa daun yang tertanggal dari dahan bila kita cuma memungut lalu memasukkannya pada tong sampah kemudian kita bakar atau pula kita diamkan saja
mari kita lihat kalender,tanggal berapa hari ini?Angka angka yang ada masih sama seperti yang bulan kemaren kita baca dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan ini berlalu tanpa kita perbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun kita tanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
oleh Tosa Poetra pada 16 Februari 2011 jam 9:56
Dapatkah kita menemukan isarat yang terbawa daun yang tertanggal dari dahan bila kita cuma memungut lalu memasukkannya pada tong sampah kemudian kita bakar atau pula kita diamkan saja
mari kita lihat kalender,tanggal berapa hari ini?Angka angka yang ada masih sama seperti yang bulan kemaren kita baca dan sama pula untuk esuk dan lusa.
1,2,3 dan seterusnya sampai kembali pada satu dan bulan ini berlalu tanpa kita perbuat sesuatu.
Hingga di akhir desember tahun kita tanggalkan seperti dahan menanggalkan daun kering.
Tentang Puisi dan Negeri
Tentang Puisi dan Negeri
oleh Tosa Poetra pada 04 Februari 2011 jam 7:51
. . . . .Kepada Mama . . . .
Lihatlah bukit-bukit gersang,sawah-sawah kering kerontang
entah sejak kapan?Mungkin sejak sehari sebelum aku ingin menulis puisi,sejak pohon-pohon ditebangi dan sejak kita susah ketika hendak menanam padi
yang semua itu ingin kututurkan dalam larik-larik puisi.
Dalam puisikupun ingin pula kusampaikan,tentang jalanan dikotaku yang berliku dan berlobang,juga tentang jalan kehidupan yang kadang bertemu jurang dan batu karang
namun semua urung aku tuliskan,sebab rima dan diksi telah pergi,hanyut terbawa banjir dan bencana yang tiada sepi mendera
kini,ijinkan aku pergi,mengejar sebait puisi untuk keindahan negeri yang telah terkoyak anarki.
. . . .4 feb 2011 . . .
oleh Tosa Poetra pada 04 Februari 2011 jam 7:51
. . . . .Kepada Mama . . . .
Lihatlah bukit-bukit gersang,sawah-sawah kering kerontang
entah sejak kapan?Mungkin sejak sehari sebelum aku ingin menulis puisi,sejak pohon-pohon ditebangi dan sejak kita susah ketika hendak menanam padi
yang semua itu ingin kututurkan dalam larik-larik puisi.
Dalam puisikupun ingin pula kusampaikan,tentang jalanan dikotaku yang berliku dan berlobang,juga tentang jalan kehidupan yang kadang bertemu jurang dan batu karang
namun semua urung aku tuliskan,sebab rima dan diksi telah pergi,hanyut terbawa banjir dan bencana yang tiada sepi mendera
kini,ijinkan aku pergi,mengejar sebait puisi untuk keindahan negeri yang telah terkoyak anarki.
. . . .4 feb 2011 . . .
TANPA JEDA ( catatan sederhana buat Johana )
TANPA JEDA ( catatan sederhana buat Johana )
oleh Tosa Poetra pada 14 Maret 2011 jam 18:28
Serotasi bumi kita bersama,pun lama sudah berasa
Semalam kata menyatu kita dalam memuja Yang ESA
Kau cerita pula cantik Malaisya,seelok negeriku Indonesia
senja tadi bersama kita pujakan Rendra
(Rupanya banyak sama pada kita)
Indah nian perkawanan kita
Semoga tak berubah sampai menghadap Allah
Seperti kita pada Yang Esa,seperti sajak pada kata
demikian kuingin antara kita tak berjeda
biarpun ruang dan waktu menjeda
oleh Tosa Poetra pada 14 Maret 2011 jam 18:28
Serotasi bumi kita bersama,pun lama sudah berasa
Semalam kata menyatu kita dalam memuja Yang ESA
Kau cerita pula cantik Malaisya,seelok negeriku Indonesia
senja tadi bersama kita pujakan Rendra
(Rupanya banyak sama pada kita)
Indah nian perkawanan kita
Semoga tak berubah sampai menghadap Allah
Seperti kita pada Yang Esa,seperti sajak pada kata
demikian kuingin antara kita tak berjeda
biarpun ruang dan waktu menjeda
bara hati
Bara Hati
oleh Tosa Poetra pada 24 Februari 2011 jam 17:53
Di antara rerintik hujan dan gemuruh guntur,dengarkan sebait puisi tentang galau hati yang mendesau seperti angin menderu di pepucuk bambu
butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba,air dan api adakah sama
bila bara telah menyala,air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar habis dan dimusnahkan seperti kayu menjadi abu,seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu dibakar ketidak perdulian
bangsa menderita ; sengsara,terluka dengan kemiskinan meraja dan ribuan bencana yang terus mendera
sedang kau cuma bisa berfoya,berpesta,kenyangkan perutmu dengan gasak uang negara
semua kau korupsi,segalanya kau manipulasi untuk kepentingan peribadi tanpa perduli
dengar gemuruh guntur,lihat rerintik hujan
guntur itu gemuruh hatiku dan rintik hujan itu air mata bangsa
oleh Tosa Poetra pada 24 Februari 2011 jam 17:53
Di antara rerintik hujan dan gemuruh guntur,dengarkan sebait puisi tentang galau hati yang mendesau seperti angin menderu di pepucuk bambu
butir butir pasir dan tepung kanji,adakah beda jika tak pernah meraba,air dan api adakah sama
bila bara telah menyala,air tak mampu memadam sebelum segala dilumat dibakar habis dan dimusnahkan seperti kayu menjadi abu,seperti besi menjadi debu
dan seperti itu hati lebur menjadi debu dibakar ketidak perdulian
bangsa menderita ; sengsara,terluka dengan kemiskinan meraja dan ribuan bencana yang terus mendera
sedang kau cuma bisa berfoya,berpesta,kenyangkan perutmu dengan gasak uang negara
semua kau korupsi,segalanya kau manipulasi untuk kepentingan peribadi tanpa perduli
dengar gemuruh guntur,lihat rerintik hujan
guntur itu gemuruh hatiku dan rintik hujan itu air mata bangsa
?
?
oleh Tosa Poetra pada 08 Maret 2011 jam 15:28
Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati berteduh di dahan jati berdiskusi tentang bulunya yang tak juga kering
nampak mulai bosan berdebat dengan kenyataan
; Entah kapan dapat kembali terbang
Mungkin nanti jika rintik hujan telah menjadi puisi dan alam menepati janji
Namun hujan akan cuma jadi sebaris puisi tak jadi dan janji alam tak selalu pasti
kadang hujan,kadang terang (tanpa dapat terprediksi)
Sementara jarum jam terus berotasi
(semua masih dalam sebuah tanda tanya)
oleh Tosa Poetra pada 08 Maret 2011 jam 15:28
Air mata langit mengucur tiada henti menggenang di selokan dan kali
Merpati berteduh di dahan jati berdiskusi tentang bulunya yang tak juga kering
nampak mulai bosan berdebat dengan kenyataan
; Entah kapan dapat kembali terbang
Mungkin nanti jika rintik hujan telah menjadi puisi dan alam menepati janji
Namun hujan akan cuma jadi sebaris puisi tak jadi dan janji alam tak selalu pasti
kadang hujan,kadang terang (tanpa dapat terprediksi)
Sementara jarum jam terus berotasi
(semua masih dalam sebuah tanda tanya)
Tentang Luka(catatan sederhana tentang negeri Sakura)
Tentang Luka(catatan sederhana tentang negeri Sakura)
oleh Tosa Poetra pada 16 Maret 2011 jam 12:08
Mengalun lembut sebaris lagu oh Sakura berirama lara tak lagi berirama disco maupun salsa yang kemaren terasa gempita membahana pada segenap ruas kota
adakah dia yang telah jadikan rima tengah tampakkan kuasa
adakah dia yang lahirkan diksi tak terimakan lagi atas anarki
gejolak alam adalah bait puisi maha karya penyair kita
adalah dia . . .Oh yang Esa,yang ada pada hati insan tanpa berjeda
yang telah jadi irama hidup dan diksi dalam hati
adakah terasa luka pada celah mimpi di balik tirai Sakura
oleh Tosa Poetra pada 16 Maret 2011 jam 12:08
Mengalun lembut sebaris lagu oh Sakura berirama lara tak lagi berirama disco maupun salsa yang kemaren terasa gempita membahana pada segenap ruas kota
adakah dia yang telah jadikan rima tengah tampakkan kuasa
adakah dia yang lahirkan diksi tak terimakan lagi atas anarki
gejolak alam adalah bait puisi maha karya penyair kita
adalah dia . . .Oh yang Esa,yang ada pada hati insan tanpa berjeda
yang telah jadi irama hidup dan diksi dalam hati
adakah terasa luka pada celah mimpi di balik tirai Sakura
Senandung Mekanik(catatan harian pekerja bengkel):kepada Goes Shoe
Senandung Mekanik(catatan harian pekerja bengkel):kepada Goes Shoe
oleh Tosa Poetra pada 16 Maret 2011 jam 12:59
;kepada Goes Shoe
Membunuh sepi adalah menulis puisi pada desir angin yang bercakap pada malam yang perlahan membungkus hati dalam lipatan mimpi
Teringat di bawah matahari berjemur dan mandi pada telaga oli yang telah bersetubuh dengan besi berhari hari meski tak pernah ejakulasi
Mur dan baut adalah pasangan serasi meski tak dapat bersatu bila tak padu,namun mur,baut,besi dan oli adalah kawan sejati yang setia mengantar bersekulah,memberi berpiring nasi dan baju buat anak istri serta menulis puisi bahkan mengantar kemana nak pergi.
Nampak pada celah oli yang menembus metal dan pori pori besi agar melaju tak terhenti terselip cita dan mimpi yang nak digapai(membina peradaban negri yang tergadai).
oleh Tosa Poetra pada 16 Maret 2011 jam 12:59
;kepada Goes Shoe
Membunuh sepi adalah menulis puisi pada desir angin yang bercakap pada malam yang perlahan membungkus hati dalam lipatan mimpi
Teringat di bawah matahari berjemur dan mandi pada telaga oli yang telah bersetubuh dengan besi berhari hari meski tak pernah ejakulasi
Mur dan baut adalah pasangan serasi meski tak dapat bersatu bila tak padu,namun mur,baut,besi dan oli adalah kawan sejati yang setia mengantar bersekulah,memberi berpiring nasi dan baju buat anak istri serta menulis puisi bahkan mengantar kemana nak pergi.
Nampak pada celah oli yang menembus metal dan pori pori besi agar melaju tak terhenti terselip cita dan mimpi yang nak digapai(membina peradaban negri yang tergadai).
Rabu, 21 Juli 2010
Jeritan sajak ku
Jeritan Sajak ku
tak ada yang menghargai puisiku disini
kujualpun tiada yang sudi membeli
mereka tak pernah mau membaca
merekapun tak pernah mau tau
puisiku kutulis dengan segenap hatiuntuk merubah kondisi negeri ku ini
mereka juga tak pernah mau bertanya
mengapa aku menulis puisi
mereka lebih suka membaca buku buku fiksi
mereka lebih suka membaca berita aktual hari ini
tentang pejabat yang terjerat koropsi
tentang bencana yang melanda negeriku ini
mereka lebih suka membacanya untuk mengerti
katanya agar tak ketinggalan informasi
tak untuk memperbaiki
teriakan para pendemo pun tak mereka dengarkan lagi
mereka hanya berkata: ini aka segera kami atasi
ini akan kami sampaikan dalam rapat bersama presiden nanti
yang akhirnya diberikan hanya janji janji
tanpa realisasi
entah dengan apa semua kan ku perbaiki
sementara puisi puisi ku hanya dianggap kta kata basi
hanya tuk melepas sepi
hanya untuk menyenangkan hatiku sendiri
dewan dewan kesenian pun hanya melirik pusi yang menempel pada dinding koran koran
mereka tak pernah mau melihat karya karya ku anak jalanan yang takuntuk ku komersilkan
tak untuk ku perjual belikan
karena sajak sajak ku ciptaan Tuhan
untuk kusedekahkan sebagai persembahan kepada alam
yang telah menganugerahiku dengan kehidupan
kurasa puisi puisi ku ungkin juga tak untuk dibukukan
karena aku tak punya uang jutaan
mungkin juga tak akan terbit di koran koran
karena ku takut diberi imbalan
karena ku tak mau puisi puisiku di abaikan
maka biarlah puisi puisiku ku abadikan dala catatan untuk ku bagi bagikan
untuk kutukar dengan sepatah kata "persaudaraan"
dan di hatimu puisi puisi ku kuterbitkan
agar hatimu terang benderang
agr kau dapat membaca tentang penderitaan
tentang jeritan
jeritan suara hatiku yang tak pernah kau perdulikan
agar kau mau membantuku memperbaiki negeriku yang tidak karuan
tapi mengapa puisi puyisiku tetap saja kau abaikan
hinga ku bertanya kembali
kapan dan dengan apa
negerikuini dapat ku perbaiki
Tosa Spd
sukowetan @trenggalek.jatim
tak ada yang menghargai puisiku disini
kujualpun tiada yang sudi membeli
mereka tak pernah mau membaca
merekapun tak pernah mau tau
puisiku kutulis dengan segenap hatiuntuk merubah kondisi negeri ku ini
mereka juga tak pernah mau bertanya
mengapa aku menulis puisi
mereka lebih suka membaca buku buku fiksi
mereka lebih suka membaca berita aktual hari ini
tentang pejabat yang terjerat koropsi
tentang bencana yang melanda negeriku ini
mereka lebih suka membacanya untuk mengerti
katanya agar tak ketinggalan informasi
tak untuk memperbaiki
teriakan para pendemo pun tak mereka dengarkan lagi
mereka hanya berkata: ini aka segera kami atasi
ini akan kami sampaikan dalam rapat bersama presiden nanti
yang akhirnya diberikan hanya janji janji
tanpa realisasi
entah dengan apa semua kan ku perbaiki
sementara puisi puisi ku hanya dianggap kta kata basi
hanya tuk melepas sepi
hanya untuk menyenangkan hatiku sendiri
dewan dewan kesenian pun hanya melirik pusi yang menempel pada dinding koran koran
mereka tak pernah mau melihat karya karya ku anak jalanan yang takuntuk ku komersilkan
tak untuk ku perjual belikan
karena sajak sajak ku ciptaan Tuhan
untuk kusedekahkan sebagai persembahan kepada alam
yang telah menganugerahiku dengan kehidupan
kurasa puisi puisi ku ungkin juga tak untuk dibukukan
karena aku tak punya uang jutaan
mungkin juga tak akan terbit di koran koran
karena ku takut diberi imbalan
karena ku tak mau puisi puisiku di abaikan
maka biarlah puisi puisiku ku abadikan dala catatan untuk ku bagi bagikan
untuk kutukar dengan sepatah kata "persaudaraan"
dan di hatimu puisi puisi ku kuterbitkan
agar hatimu terang benderang
agr kau dapat membaca tentang penderitaan
tentang jeritan
jeritan suara hatiku yang tak pernah kau perdulikan
agar kau mau membantuku memperbaiki negeriku yang tidak karuan
tapi mengapa puisi puyisiku tetap saja kau abaikan
hinga ku bertanya kembali
kapan dan dengan apa
negerikuini dapat ku perbaiki
Tosa Spd
sukowetan @trenggalek.jatim
chairil anwar Bapak ku
Chairil Anwar Bapak ku
Disini ku ukir mimpi setelah sekian sepi yang terlewati
Disini juga kukatakan pada tiap bara api
Bakarlah aku agar menjadi asap yang mengepul seketika lenyap
ditelan angin yang pandai menerbangkannya menembus ruang dan waktu
yang akan membawaku membumbung tinggi sampai pada puncak lazuardi
dimana disana kutemui arwah bapakku yang telah mati
seketika itu arwah bapakku tersentak melihatku dan bertanya padaku mengapa aku menyusulnya
Dengan deraian air mata kuceritakan padanya tentang alamku
yang menderita menanggung rindu semenjak ditinggalkannya
hingga dia mendekapku penuh kasih sayang dan membelai rambutku
kemudian dia melepaskanku dari pelukannya lalu memandangiku dari ujung rambut hingga kepala
dia berkata padaku bahwa aku ini adalah anaknya
yang terlahir jauh setelah kematiannya
untuk meneruskan teriakan teriakannya dan menyampaikan pada semesta alam
bahwa dia telah menepati janji dari apa yang telah dikatakan
dia ingin hidup seribu tahun lagi didunia
lantas dia menyuruhku kembali kemayapada untuk memancangkan bendera baru bergambar kepalanya
maka aku bertanya dengan apa kan kugambar kepalanya
sedang aku tak memiliki mata pena
untuk melukis dan diakui alam semesta
maka kuminta tanda tangannya yang ku tau tak akan terlihat oleh mata manapun yang memandangnya tanpa rasa cinta
aku melihat dia tersenyum
nampaknya dia tau sebilah pedang yang kusematkan di dada
yang kubawa semenjak angin belum membawaku kepadanya
lantas dia memerintahku untuk memenggal kepalanya dan kutaruh diatas kepalaku
dan membawanya kembali kemaya pada
untuk kupancangkan ditiang bendera
sebelum ku kembali kemayapada
dia memintaku memakan jantung dan hatinya
meminum habis darahnya serta melebur jazatnya dalam diriku
dan dia setelak aku
sampai dimayapada
dia menyuruhku meneriakkan setiap kata walau tak seorangpun mendengar
dan mengatakan pada semesta alam bahwa aku ini adalah anaknya
ruh jazatnya ada padaku walau tak sesiapapun mengakuinya
Tosa spd
sukowetan@trenggalek.jatim
19 juli 2010
Disini ku ukir mimpi setelah sekian sepi yang terlewati
Disini juga kukatakan pada tiap bara api
Bakarlah aku agar menjadi asap yang mengepul seketika lenyap
ditelan angin yang pandai menerbangkannya menembus ruang dan waktu
yang akan membawaku membumbung tinggi sampai pada puncak lazuardi
dimana disana kutemui arwah bapakku yang telah mati
seketika itu arwah bapakku tersentak melihatku dan bertanya padaku mengapa aku menyusulnya
Dengan deraian air mata kuceritakan padanya tentang alamku
yang menderita menanggung rindu semenjak ditinggalkannya
hingga dia mendekapku penuh kasih sayang dan membelai rambutku
kemudian dia melepaskanku dari pelukannya lalu memandangiku dari ujung rambut hingga kepala
dia berkata padaku bahwa aku ini adalah anaknya
yang terlahir jauh setelah kematiannya
untuk meneruskan teriakan teriakannya dan menyampaikan pada semesta alam
bahwa dia telah menepati janji dari apa yang telah dikatakan
dia ingin hidup seribu tahun lagi didunia
lantas dia menyuruhku kembali kemayapada untuk memancangkan bendera baru bergambar kepalanya
maka aku bertanya dengan apa kan kugambar kepalanya
sedang aku tak memiliki mata pena
untuk melukis dan diakui alam semesta
maka kuminta tanda tangannya yang ku tau tak akan terlihat oleh mata manapun yang memandangnya tanpa rasa cinta
aku melihat dia tersenyum
nampaknya dia tau sebilah pedang yang kusematkan di dada
yang kubawa semenjak angin belum membawaku kepadanya
lantas dia memerintahku untuk memenggal kepalanya dan kutaruh diatas kepalaku
dan membawanya kembali kemaya pada
untuk kupancangkan ditiang bendera
sebelum ku kembali kemayapada
dia memintaku memakan jantung dan hatinya
meminum habis darahnya serta melebur jazatnya dalam diriku
dan dia setelak aku
sampai dimayapada
dia menyuruhku meneriakkan setiap kata walau tak seorangpun mendengar
dan mengatakan pada semesta alam bahwa aku ini adalah anaknya
ruh jazatnya ada padaku walau tak sesiapapun mengakuinya
Tosa spd
sukowetan@trenggalek.jatim
19 juli 2010
Diantara batu kali
Diantara batu kali
Ingin kubacakan satu sajang tentang alam dengan iringan gemericik suara air menembus celah batu
dan pada ikan ikan kutanyakan mengapa alamku tiada hijau lagi seperti dulu
sementara air celah batu batu disini masih mengalir menyuburkan sawah sawah
aku ingin menyatu dengan air air itu dan bersamanya menembus celah batu batu
mengalir sampai pada sawah sawah menyuburkan padi padi
disini pula ingin kupahatkan namaku pada batu batu untuk ku tinggalkan jejakku
agar nanti jika datang pengantin baru hendak mandi di kali ini mereka akan tau aku ada disini
dalam tiap batu batu tempat mereka sembunyi dari intaian anak anak nakal
dan mereka juga tau aku ada pada air air yang mereka pakai bersuci
lalu mereka akan berdoa untuk kesuburan alamku
serta mereka juga mengalirkan doa dalam tiap mili air yang mengalir menembus celah batu batu sampai pada sawah sawah.
Tosa spd
soko depok bendungan@Trenggalek.Jatim
19 juli 2010
Ingin kubacakan satu sajang tentang alam dengan iringan gemericik suara air menembus celah batu
dan pada ikan ikan kutanyakan mengapa alamku tiada hijau lagi seperti dulu
sementara air celah batu batu disini masih mengalir menyuburkan sawah sawah
aku ingin menyatu dengan air air itu dan bersamanya menembus celah batu batu
mengalir sampai pada sawah sawah menyuburkan padi padi
disini pula ingin kupahatkan namaku pada batu batu untuk ku tinggalkan jejakku
agar nanti jika datang pengantin baru hendak mandi di kali ini mereka akan tau aku ada disini
dalam tiap batu batu tempat mereka sembunyi dari intaian anak anak nakal
dan mereka juga tau aku ada pada air air yang mereka pakai bersuci
lalu mereka akan berdoa untuk kesuburan alamku
serta mereka juga mengalirkan doa dalam tiap mili air yang mengalir menembus celah batu batu sampai pada sawah sawah.
Tosa spd
soko depok bendungan@Trenggalek.Jatim
19 juli 2010
Sabtu, 17 Juli 2010
campur bawur
Ketinggalan Kereta
25 Juni 2010 jam 21:19
Kereta berangkat tepat pukul lima
sekarang pukul lima
Miskin hati
21 Juni 2010 jam 16:50
Seorang anak melihat pengemis Ketika diajak ayahnya berjalan jalan ke kota,kemudian dia bertanya
"yah kenapa orang itu bajunya bertambal tambal?"
"dia orang miskin nak"
jawab ayahnya,kemudian anak itu bertanya lagi
"lantas kenapa jalan kita bertambal tambal?"
"karena jika kita daftar naik haji tak pernah ditanya apakah uangnya hasil koropsi atau bukan"
Obat merah
17 Juni 2010 jam 14:17
Sore itu dia terluka tangan kanannya
obat merah tinggal botol saja
dia iris tangan kiri
untuk obat merah luka tangan kanannya
25 Juni 2010 jam 21:19
Kereta berangkat tepat pukul lima
sekarang pukul lima
Miskin hati
21 Juni 2010 jam 16:50
Seorang anak melihat pengemis Ketika diajak ayahnya berjalan jalan ke kota,kemudian dia bertanya
"yah kenapa orang itu bajunya bertambal tambal?"
"dia orang miskin nak"
jawab ayahnya,kemudian anak itu bertanya lagi
"lantas kenapa jalan kita bertambal tambal?"
"karena jika kita daftar naik haji tak pernah ditanya apakah uangnya hasil koropsi atau bukan"
Obat merah
17 Juni 2010 jam 14:17
Sore itu dia terluka tangan kanannya
obat merah tinggal botol saja
dia iris tangan kiri
untuk obat merah luka tangan kanannya
nurani
Nurani soyomukti
29 Juni 2010 jam 23:30
Bulan itu kudengar suara lantunan sair lagu
irama rancak pesta perkawinan
dibalik gunung itu kudengar desahmu
recau istrimu kala kau cumbu
aku tau kau tengah berbulan madu
akupun mendengar kerenyit ranjang mengiringi istrimu menyanyi menina bobok kan mu
kini kau membisu
laksana air membeku
hanya diantara tebing tebing itu kudengar resahmu
kala tak kunjung kau temukan buah tanamanmu
mungkin kau juga tak pernah lelah
tak seperti aku yang seolah pasrah
namun kau tak pernah tanya
kapan kita kemana
yang kau tanya hanya mengapa dan bagaimana merubah peradaban
sedang mereka terus teguh dalam kemunafikan
tanpa perduli sair demonstrasi yang kita dendangkan
kawan,kini kau tak lagi sendiri
kurasa kaupun tak lagi perlu onani
seribu jalan terbentang untuk ditapaki
walau penuh sejuta duri
tapi kenapa gubuk ku tak lagi sudi kau kunjungi
apakah kini nuranimu telah soyomukti
bersemayam bersama deburan ombak
pantai prigi
29 Juni 2010 jam 23:30
Bulan itu kudengar suara lantunan sair lagu
irama rancak pesta perkawinan
dibalik gunung itu kudengar desahmu
recau istrimu kala kau cumbu
aku tau kau tengah berbulan madu
akupun mendengar kerenyit ranjang mengiringi istrimu menyanyi menina bobok kan mu
kini kau membisu
laksana air membeku
hanya diantara tebing tebing itu kudengar resahmu
kala tak kunjung kau temukan buah tanamanmu
mungkin kau juga tak pernah lelah
tak seperti aku yang seolah pasrah
namun kau tak pernah tanya
kapan kita kemana
yang kau tanya hanya mengapa dan bagaimana merubah peradaban
sedang mereka terus teguh dalam kemunafikan
tanpa perduli sair demonstrasi yang kita dendangkan
kawan,kini kau tak lagi sendiri
kurasa kaupun tak lagi perlu onani
seribu jalan terbentang untuk ditapaki
walau penuh sejuta duri
tapi kenapa gubuk ku tak lagi sudi kau kunjungi
apakah kini nuranimu telah soyomukti
bersemayam bersama deburan ombak
pantai prigi
Langganan:
Postingan (Atom)
arsip
BAB
- artikel puisi (1)
- cerpen (6)
- esai (1)
- filsafat (5)
- geguritan tosa (1)
- Kontras (2)
- Lomba Puisi (11)
- Novel.Melan-Conys (3)
- pengertian puisi (1)
- Puisi Anak Kompas (10)
- puisi Aura (5)
- puisi terkenal (1)
- puisi TOSA (107)
- sejarah (1)
- tentang puisi (1)
- wayangan (2)